Jakarta, 20 Agustus 2026 – Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan bahwa keberhasilan sebuah koperasi tidak cukup dinilai dari besarnya omzet atau keuntungan yang diperoleh. Menurutnya, ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan anggota dan masyarakat dari keberadaan koperasi tersebut. Koperasi harus mampu menjadi wadah ekonomi yang memberikan nilai tambah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Karena itu, pengelolaan koperasi perlu diarahkan agar kegiatan usaha tidak hanya mengejar pertumbuhan secara angka, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi anggota. Pendekatan tersebut dinilai penting agar koperasi benar-benar menjalankan fungsi ekonomi sekaligus sosial sesuai dengan semangat perkoperasian.
Ferry menyampaikan pandangan tersebut ketika menekankan pentingnya perubahan cara melihat keberhasilan koperasi di Indonesia. Selama ini, ukuran keberhasilan badan usaha sering kali dikaitkan dengan peningkatan pendapatan, aset, maupun keuntungan. Namun, koperasi memiliki karakteristik berbeda karena anggota sekaligus menjadi bagian penting dari kepemilikan dan kegiatan ekonominya. Oleh sebab itu, pertumbuhan usaha harus diikuti dengan peningkatan manfaat yang diterima anggota. Koperasi yang mampu menciptakan lapangan usaha, memperluas akses pasar, meningkatkan pendapatan anggota, serta memberikan pelayanan yang lebih baik dapat dinilai berhasil meskipun ukuran keuntungannya tidak selalu sebesar perusahaan komersial.
Menurut Ferry, koperasi perlu kembali memperkuat prinsip bahwa anggota merupakan pusat dari seluruh kegiatan usaha. Keputusan yang diambil pengurus seharusnya mempertimbangkan kepentingan anggota dan kebutuhan masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem koperasi. Dengan begitu, kegiatan ekonomi yang dilakukan tidak berhenti pada transaksi, tetapi menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang. Koperasi juga perlu memastikan pembagian manfaat dilakukan secara adil berdasarkan kontribusi dan ketentuan yang telah disepakati. Tata kelola yang baik akan membuat anggota memiliki kepercayaan lebih besar terhadap koperasi dan terdorong untuk terlibat secara aktif.
Penguatan koperasi juga berkaitan dengan kemampuan mengembangkan usaha sesuai potensi daerah. Setiap wilayah memiliki sumber daya, karakteristik ekonomi, serta kebutuhan masyarakat yang berbeda. Koperasi dapat menjadi wadah untuk mengonsolidasikan potensi tersebut sehingga anggota memiliki posisi tawar yang lebih kuat ketika berhadapan dengan pasar. Petani, nelayan, pelaku usaha mikro, maupun pekerja dapat memanfaatkan koperasi untuk memperoleh akses terhadap bahan produksi, pembiayaan, teknologi, serta pasar. Dengan pengelolaan yang profesional, koperasi dapat membantu anggota mengurangi berbagai hambatan yang selama ini membuat usaha mereka sulit berkembang.
Ferry juga menekankan pentingnya koperasi memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Manfaat tersebut dapat muncul melalui penyediaan barang dan jasa dengan harga yang lebih terjangkau, pembukaan lapangan kerja, maupun peningkatan aktivitas ekonomi lokal. Koperasi yang beroperasi di suatu wilayah diharapkan tidak hanya mengambil keuntungan dari kegiatan ekonomi masyarakat, tetapi juga ikut membangun kapasitas anggotanya. Semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat dari kegiatan koperasi, semakin besar pula kontribusi koperasi terhadap pembangunan ekonomi daerah. Karena itu, dampak sosial dan ekonomi harus menjadi bagian dari evaluasi kinerja koperasi.
Digitalisasi juga menjadi salah satu aspek yang dapat membantu koperasi meningkatkan manfaat bagi anggota. Pemanfaatan teknologi dapat digunakan untuk memperbaiki administrasi, pencatatan transaksi, pengelolaan keuangan, hingga pemasaran produk. Dengan sistem yang lebih modern, koperasi dapat mengurangi biaya operasional dan mempercepat pelayanan kepada anggota. Digitalisasi juga memungkinkan koperasi memperluas jangkauan pasar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada transaksi secara konvensional. Namun, penerapan teknologi harus disesuaikan dengan kemampuan anggota agar tidak menciptakan kesenjangan baru dalam pengelolaan koperasi.
Profesionalisme pengurus menjadi faktor lain yang menentukan keberhasilan koperasi. Koperasi yang memiliki sistem tata kelola lemah akan sulit berkembang meskipun memiliki anggota dalam jumlah besar. Pengurus perlu memiliki kemampuan dalam mengelola keuangan, membaca peluang pasar, mengembangkan usaha, serta memastikan seluruh kegiatan berjalan transparan. Laporan keuangan juga perlu disampaikan secara terbuka kepada anggota agar mereka mengetahui kondisi koperasi dan perkembangan usahanya. Transparansi tersebut dapat memperkuat kepercayaan sekaligus mencegah terjadinya persoalan dalam pengelolaan aset koperasi.
Pemerintah juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan koperasi. Dukungan tidak hanya berupa bantuan modal, tetapi juga pendampingan, pelatihan, akses terhadap pasar, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. Program pemerintah perlu diarahkan agar koperasi mampu berdiri secara mandiri setelah mendapatkan dukungan awal. Bantuan yang tidak disertai peningkatan kapasitas dapat membuat koperasi bergantung pada program pemerintah dan sulit berkembang secara berkelanjutan. Karena itu, pembinaan harus berorientasi pada kemampuan koperasi membangun model usaha yang sehat dan menghasilkan manfaat bagi anggotanya.
Koperasi juga perlu mampu membangun kemitraan dengan berbagai pihak tanpa kehilangan prinsip dasarnya. Kerja sama dengan perusahaan, lembaga keuangan, pemerintah daerah, maupun pelaku usaha lainnya dapat membuka akses baru bagi koperasi. Namun, setiap kemitraan harus memberikan keuntungan yang wajar bagi anggota dan tidak menghilangkan posisi koperasi sebagai organisasi ekonomi yang dimiliki oleh anggotanya. Kemitraan yang tepat dapat membantu koperasi meningkatkan skala usaha sekaligus memperluas jaringan pemasaran. Dengan demikian, koperasi dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi yang lebih besar tanpa kehilangan orientasi terhadap kesejahteraan anggota.
Pandangan Ferry mengenai ukuran keberhasilan koperasi juga menempatkan kesejahteraan anggota sebagai tujuan utama. Pertumbuhan aset dan keuntungan memang tetap diperlukan karena koperasi harus memiliki fondasi keuangan yang sehat. Namun, angka tersebut tidak akan memiliki arti maksimal apabila tidak menghasilkan perubahan positif bagi kehidupan anggota. Koperasi harus mampu menjawab kebutuhan nyata, meningkatkan daya tawar, dan membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat. Ukuran keberhasilan yang lebih luas tersebut dapat membuat koperasi tidak hanya berfungsi sebagai badan usaha, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dengan menempatkan manfaat bagi anggota dan masyarakat sebagai salah satu ukuran utama keberhasilan, koperasi diharapkan dapat berkembang dengan orientasi yang lebih kuat terhadap kesejahteraan. Menteri Koperasi Ferry Juliantono mendorong agar koperasi tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi memastikan hasil kegiatan usahanya benar-benar kembali memberikan manfaat kepada anggota. Penguatan tata kelola, profesionalisme, digitalisasi, akses pasar, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting untuk mencapai tujuan tersebut. Koperasi yang sehat bukan sekadar koperasi yang memiliki omzet besar, melainkan koperasi yang mampu bertahan, berkembang, dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistemnya.