Jakarta, 6 September 2026 – Kementerian Kesehatan meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan menyusul meluasnya sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Puskesmas dan rumah sakit di wilayah terdampak diminta bersiaga untuk menangani masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan, terutama masalah saluran pernapasan, mata, dan kulit. Peralatan medis seperti nebulizer dan konsentrator oksigen telah disiapkan untuk membantu pasien yang mengalami gangguan pernapasan setelah terpapar material vulkanik. Obat tetes mata serta salep untuk menangani iritasi kulit juga masuk dalam logistik yang disiapkan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tidak panik, tetapi segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mulai mengalami keluhan yang mengganggu. Kesiapsiagaan tersebut dilakukan karena partikel abu vulkanik dapat memberikan dampak kesehatan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Kementerian Kesehatan juga telah mengaktifkan Health Emergency Operating Center atau HEOC mulai dari tingkat pusat hingga kabupaten dan kota yang terdampak. Dinas kesehatan di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat diinstruksikan memastikan puskesmas maupun rumah sakit siap memberikan pelayanan selama 24 jam apabila terjadi peningkatan jumlah pasien. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat dapat memperoleh pertolongan dengan cepat tanpa harus menunggu keluhan berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Selain peralatan medis, pemerintah memastikan distribusi berbagai obat untuk penanganan Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA tetap berjalan. Masker medis dan N95, tabung oksigen, konsentrator oksigen, serta kebutuhan medis lain juga disalurkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan. Pemerintah akan menyesuaikan kebutuhan logistik berdasarkan perkembangan jumlah wilayah dan masyarakat yang terdampak.
Untuk gangguan saluran pernapasan, nebulizer menjadi salah satu perangkat yang disiagakan di fasilitas kesehatan. Alat tersebut digunakan dalam pelayanan medis untuk membantu pemberian obat dalam bentuk aerosol sesuai indikasi tenaga kesehatan, terutama bagi pasien tertentu yang mengalami gangguan pernapasan. Konsentrator oksigen juga disiapkan untuk mendukung penanganan pasien yang membutuhkan terapi oksigen berdasarkan hasil pemeriksaan medis. Budi meminta warga yang mulai merasa tidak nyaman pada pernapasan segera mendatangi puskesmas terdekat agar kondisinya dapat diperiksa. Masyarakat tidak disarankan melakukan pengobatan sendiri menggunakan nebulizer tanpa penilaian tenaga kesehatan karena kebutuhan terapi setiap pasien dapat berbeda. Kesiapan peralatan di puskesmas diharapkan membuat keluhan akibat paparan abu dapat ditangani lebih cepat dan tepat.
Mata menjadi bagian tubuh lain yang mendapatkan perhatian karena partikel abu dapat menyebabkan gatal, perih, kemerahan, berair, dan iritasi. Kementerian Kesehatan telah menyiapkan obat tetes mata di puskesmas untuk menangani masyarakat yang membutuhkan pertolongan setelah mengalami paparan. Warga diingatkan tidak mengucek mata apabila abu masuk karena gesekan dapat memperburuk iritasi pada permukaan mata. Pertolongan awal yang dianjurkan adalah membilas mata secara perlahan menggunakan air bersih dan menghindari tindakan yang dapat menyebabkan partikel bergesekan dengan permukaan mata. Apabila rasa perih, kemerahan, gangguan penglihatan, atau keluhan lainnya tidak membaik, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan. Penggunaan kacamata ketika harus beraktivitas di luar juga dianjurkan untuk mengurangi kemungkinan partikel mengenai mata secara langsung.
Kementerian Kesehatan turut menyiapkan salep kulit karena material vulkanik dapat menimbulkan iritasi setelah menempel pada tubuh. Warga yang selesai melakukan aktivitas di luar rumah diminta segera membersihkan tubuh dan mengganti pakaian untuk mengurangi kontak berkepanjangan dengan partikel. Abu tidak dianjurkan dibiarkan menempel pada kulit, terlebih apabila sudah menimbulkan rasa gatal atau kemerahan. Masyarakat juga perlu menghindari menggaruk bagian kulit yang mengalami iritasi karena dapat memperburuk kondisi. Apabila keluhan berlanjut, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan agar penanganan dapat diberikan sesuai kondisi pasien. Ketersediaan salep kulit di puskesmas menjadi bagian dari paket kesiapsiagaan untuk menangani tiga dampak utama paparan abu, yakni pada pernapasan, mata, dan kulit.
Menkes Budi juga meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak terdapat kebutuhan yang mendesak. Ketika harus keluar, warga dianjurkan menggunakan masker dan kacamata untuk mengurangi paparan partikel yang masuk melalui saluran pernapasan maupun mengenai mata. Anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar. Paparan abu dengan intensitas tinggi dapat memicu gangguan kesehatan akut, termasuk ISPA, iritasi mata, dan gangguan kulit. Masyarakat dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya perlu lebih berhati-hati karena paparan dapat memperburuk keluhan tertentu. Pencegahan paparan tetap menjadi langkah utama meskipun fasilitas kesehatan dan berbagai peralatan medis telah dipersiapkan.
Selain kesiapan fasilitas kesehatan, pemerintah melakukan pemantauan terhadap wilayah yang dilalui sebaran abu untuk menentukan kebutuhan pelayanan berikutnya. Berdasarkan analisis pada Minggu pagi, abu Anak Krakatau terpantau membentuk dua klaster dengan arah pergerakan yang berbeda. Salah satu sebaran terpantau dari permukaan hingga sekitar 20.000 kaki dan mencakup sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat serta perairan sekitarnya. Klaster lainnya terpantau hingga sekitar 50.000 kaki dengan cakupan sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan wilayah Samudra Hindia. Pergerakan material dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer sehingga wilayah terdampak juga dapat berkembang dari waktu ke waktu. Situasi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mempertahankan kesiapsiagaan kesehatan meskipun tingkat paparan di permukaan tidak sama pada setiap daerah.
Koordinasi lintas sektor juga diperkuat untuk memastikan respons kesehatan berjalan bersamaan dengan penanganan dampak erupsi lainnya. Kementerian Kesehatan berkoordinasi dengan BNPB, BMKG, dan unsur pemantauan vulkanologi untuk memperoleh pembaruan mengenai aktivitas gunung dan arah sebaran abu. Informasi tersebut diperlukan agar distribusi masker, obat-obatan, oksigen, dan perlengkapan kesehatan dapat diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan. Kemenkes juga menyiapkan pedoman lebih rinci bagi tenaga kesehatan di kabupaten dan kota terdampak agar penanganan masyarakat dapat dilakukan secara terkoordinasi. Langkah tersebut menjadi penting karena dampak abu tidak hanya berkaitan dengan satu jenis keluhan dan dapat berbeda berdasarkan kondisi kesehatan masing-masing warga. Fasilitas kesehatan diminta tetap memperhatikan kemungkinan peningkatan kebutuhan layanan apabila konsentrasi abu kembali meningkat.
Masyarakat juga diminta memperhatikan tanda-tanda gangguan kesehatan setelah melakukan aktivitas di kawasan yang terdampak. Batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, mata merah atau perih, serta gangguan pada kulit menjadi keluhan yang perlu diperhatikan, terutama jika tidak membaik setelah paparan dihentikan. Warga dengan keluhan pernapasan berat tidak disarankan menunda pemeriksaan karena tenaga kesehatan perlu menentukan apakah pasien membutuhkan obat, nebulisasi, terapi oksigen, atau penanganan lainnya. Demikian pula dengan gangguan mata dan kulit yang terus memburuk meskipun sudah dibersihkan menggunakan air. Pemerintah mengingatkan kesiapan alat dan obat di puskesmas dimaksudkan agar masyarakat tidak ragu mencari pertolongan ketika benar-benar membutuhkan. Penanganan lebih dini diharapkan dapat mencegah gangguan kesehatan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Kesiagaan nebulizer, konsentrator oksigen, obat tetes mata, salep kulit, masker, serta obat-obatan di fasilitas kesehatan menjadi bagian dari respons pemerintah menghadapi dampak kesehatan erupsi Anak Krakatau. Puskesmas dan rumah sakit di daerah terdampak disiapkan agar mampu merespons kebutuhan masyarakat selama sebaran abu masih berlangsung. Namun, pemerintah tetap menekankan bahwa perlindungan terbaik adalah mengurangi paparan dengan membatasi kegiatan di luar rumah, memakai masker dan kacamata, serta segera membersihkan tubuh setelah kembali dari luar. Kelompok rentan perlu memperoleh perlindungan lebih ketat dan diprioritaskan untuk berada di lingkungan yang minim paparan. Masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan diminta segera mencari pertolongan dan tidak menunggu gejala menjadi semakin berat. Kesiapsiagaan layanan kesehatan akan terus disesuaikan dengan perkembangan erupsi dan pergerakan abu vulkanik di wilayah terdampak.