Jakarta, 30 September 2026 – Pelatih tim nasional Inggris Thomas Tuchel menilai Jude Bellingham mampu menunjukkan permainan lebih baik ketika tampil dengan emosi dan sedikit amarah. Penilaian tersebut muncul setelah gelandang Real Madrid itu menjadi salah satu pemain Inggris yang paling menonjol meski kalah 2-3 dari Spanyol dalam laga UEFA Nations League. Bellingham bermain dengan intensitas tinggi, terlibat dalam banyak duel, dan terus mencoba membawa Inggris menekan pertahanan lawan. Ia juga terlibat dalam beberapa situasi panas selama pertandingan di Wembley. Bagi Tuchel, karakter kompetitif seperti itu justru dapat membantu pemain berusia 23 tahun tersebut menemukan level permainan terbaiknya.
Bellingham memberikan assist untuk gol Anthony Gordon dan memenangkan penalti yang kemudian gagal dikonversi Harry Kane. Ia juga menciptakan lima peluang, jumlah terbanyak dalam pertandingan, serta terlibat dalam 15 duel sepanjang laga. Kontribusinya membuat Inggris tetap mampu memberikan tekanan kepada Spanyol hingga fase akhir pertandingan. Meski Three Lions akhirnya harus menerima kekalahan, penampilan Bellingham menjadi salah satu aspek positif dari permainan tim. Performa tersebut memperlihatkan bagaimana energi dan agresivitasnya dapat memberikan pengaruh besar di lini tengah.
Salah satu momen yang mendapatkan perhatian terjadi ketika Bellingham terlibat adu argumen dengan Marc Cucurella. Situasi itu menarik karena keduanya merupakan rekan satu tim di Real Madrid, tetapi berada di kubu berbeda ketika Inggris menghadapi Spanyol. Tuchel melihat insiden tersebut sebagai bagian dari karakter kompetitif Bellingham ketika pertandingan berlangsung. Menurut sang pelatih, Bellingham seolah melupakan hubungan pertemanan selama 90 menit karena fokus utamanya adalah membawa timnya menang. Setelah pertandingan selesai, persaingan tersebut tidak mengubah hubungan mereka sebagai rekan satu klub.
Tuchel bahkan melihat Bellingham terkadang membutuhkan situasi penuh tensi untuk meningkatkan semangatnya. Sang gelandang dianggap mampu mengubah rasa frustrasi atau persaingan menjadi energi yang mendorongnya bermain lebih agresif. Pola serupa pernah terlihat ketika Bellingham mengakui kritik terhadap performanya menjadi motivasi tambahan saat membela Inggris di Piala Dunia 2026. Ketika menghadapi Kroasia pada Juni lalu, ia menyebut perasaan ingin membuktikan diri membantu meningkatkan fokus dan intensitas permainannya. Hal tersebut memperkuat gambaran bahwa tekanan dapat menjadi salah satu pemicu performa terbaik Bellingham.
Namun, bermain dengan emosi tetap membutuhkan kontrol agar agresivitas tidak berubah menjadi tindakan yang merugikan tim. Bellingham dikenal sebagai pemain yang tidak menghindari duel fisik dan kerap menunjukkan ekspresi emosional ketika pertandingan berlangsung ketat. Tuchel tampaknya tidak ingin menghilangkan karakter tersebut karena dianggap menjadi bagian penting dari permainan sang gelandang. Tantangannya adalah memastikan energi itu tetap diarahkan untuk merebut bola, melakukan tekanan, menciptakan peluang, dan membantu rekan setim. Dengan keseimbangan tersebut, sisi emosional Bellingham dapat menjadi kekuatan tanpa mengurangi disiplin permainan Inggris.
Performa melawan Spanyol juga melanjutkan periode produktif Bellingham bersama tim nasional. Ia telah terlibat dalam sembilan gol dari sembilan penampilan internasional terakhirnya dengan catatan tujuh gol dan dua assist. Sebelum jeda internasional kali ini, Bellingham juga terpilih sebagai Pemain Terbaik Inggris untuk musim kedua secara beruntun. Perannya semakin penting karena Tuchel membutuhkan gelandang yang bukan hanya mampu mengatur permainan, tetapi juga membawa bola secara progresif dan memberikan ancaman di sekitar kotak penalti. Kemampuan Bellingham menjalankan berbagai tugas tersebut membuatnya tetap menjadi salah satu figur sentral dalam permainan Inggris.
Meski demikian, Tuchel tetap memperhatikan kondisi fisik Bellingham di tengah jadwal internasional yang padat. Inggris menjalani empat pertandingan Nations League dalam periode 11 hari sehingga rotasi menjadi pertimbangan penting untuk menghindari risiko cedera. Tuchel menyatakan ingin memainkan Bellingham sebanyak mungkin, tetapi keputusan akhir tetap mempertimbangkan evaluasi tim medis. Sang pelatih tidak ingin intensitas tinggi yang menjadi kekuatan Bellingham justru membuat kondisi fisiknya terganggu. Bagi Inggris, tantangannya sekarang adalah menjaga api kompetitif sang gelandang tetap menyala sekaligus memastikan energinya dapat digunakan secara maksimal sepanjang pertandingan.