Jakarta, 28 Agustus 2026 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) mempertimbangkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi kondisi kering dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Namun, pelaksanaan OMC masih menghadapi kendala karena pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut terbatas.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan kondisi kering membuat penanganan karhutla semakin sulit, terutama karena sumber air di sejumlah lokasi mulai mengering. BPBD mencatat sekitar 1.300 hotspot terdeteksi di Kaltim sepanjang 1 hingga 26 Agustus 2026, meski setiap titik panas masih harus diverifikasi untuk memastikan apakah benar merupakan kebakaran.
Sumber Air Mulai Menjadi Kendala
Kekeringan menjadi salah satu persoalan utama dalam penanganan karhutla di Kaltim. Sejumlah lokasi yang biasanya memiliki genangan air kini mengalami penyusutan akibat kondisi kemarau.
Salah satu wilayah yang disebut mengalami kondisi tersebut adalah Pendingin. Kawasan yang biasanya memiliki rawa dan genangan air cukup tinggi kini mengalami kekeringan sehingga menyulitkan petugas memperoleh pasokan air untuk pemadaman.
Kondisi lahan yang sangat kering juga membuat api lebih mudah kembali menyala. Material sisa kebakaran yang terbawa angin dapat berpindah ke area lain dan memicu titik api baru.
BPBD Ingin Manfaatkan OMC
Di tengah kondisi tersebut, BPBD Kaltim mengusulkan OMC sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan peluang turunnya hujan. Namun, metode tersebut tidak dapat dilakukan setiap saat karena membutuhkan kondisi atmosfer tertentu.
OMC bekerja dengan menyemai bahan seperti garam atau natrium klorida ke dalam awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan. Karena itu, keberadaan awan yang memenuhi persyaratan teknis menjadi faktor penting dalam menentukan apakah operasi dapat dilakukan.
BMKG sebelumnya juga menjelaskan bahwa OMC di Kaltim dan kawasan IKN dilakukan untuk mengatasi defisit air sekaligus membantu penanganan karhutla.
Belum Ada Awan, Garam Bisa Sia-sia
Buyung menggambarkan kendala tersebut dengan pernyataan bernada gurauan. Menurutnya, apabila kondisi benar-benar kering dan tidak terdapat awan yang bisa disemai, penaburan garam tidak akan menghasilkan hujan yang diharapkan.
“Kalau sekarang kondisinya lagi kering, enggak ada awan, ya kalau nanti taruh garam jadi hujan garam saja,” ujar Buyung.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa OMC bukan sekadar menaburkan garam ke atmosfer. Prosesnya harus dilakukan pada awan yang memenuhi kriteria agar bahan semai dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan.
OMC Sudah Dilakukan di Sejumlah Wilayah Kaltim
Sebelumnya, OMC telah dilaksanakan di kawasan IKN dan sejumlah wilayah Kaltim pada 21-24 Agustus 2026. Operasi tersebut dilakukan oleh BMKG bersama OIKN, TNI AU, BNPB, dan pemerintah daerah.
Pelaksanaan OMC tersebut dilaporkan berhasil memicu hujan di sejumlah wilayah, termasuk Mahakam Ulu dan Kutai Kartanegara.
Namun, keberhasilan operasi sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Ketika tidak terdapat awan potensial, penerbangan untuk penyemaian tidak dapat dilakukan secara efektif.
Hotspot Tidak Selalu Berarti Karhutla
BPBD Kaltim juga mengingatkan bahwa angka 1.300 hotspot yang terdeteksi satelit tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran.
Titik panas merupakan indikasi adanya anomali suhu yang dapat disebabkan berbagai hal. Karena itu, setiap hotspot harus diverifikasi di lapangan sebelum dinyatakan sebagai kejadian karhutla.
Verifikasi dilakukan bersama jajaran kepolisian dan dapat diteruskan kepada petugas di wilayah masing-masing untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Siapkan Alternatif Sumber Air
Selain mengusulkan OMC, BPBD Kaltim juga mempertimbangkan solusi jangka panjang untuk mengatasi keterbatasan sumber air saat musim kering. Salah satu opsi yang dibahas adalah pembangunan sumur dalam atau deep well.
Tangki air juga dinilai diperlukan untuk membantu petugas memadamkan kebakaran di lokasi yang jauh dari sumber air.
Langkah tersebut menjadi penting karena kondisi kekeringan dapat berlangsung lebih lama dan membuat sumber air permukaan semakin terbatas.
Penanganan Karhutla Terus Dilakukan
OMC bukan satu-satunya metode yang digunakan untuk menangani karhutla. Pemerintah tetap mengandalkan pemadaman darat, patroli, deteksi dini, serta koordinasi lintas instansi.
Pemantauan kondisi atmosfer juga terus dilakukan untuk mencari peluang pelaksanaan OMC apabila awan potensial kembali terbentuk.
BPBD Kaltim mempertimbangkan OMC untuk membantu mengatasi karhutla dan kekeringan, tetapi pelaksanaannya harus menunggu ketersediaan awan yang memenuhi syarat. Tanpa awan hujan yang cukup, penyemaian garam tidak dapat dilakukan secara efektif sehingga BPBD juga menyiapkan alternatif berupa penguatan sumber air dan pemadaman di lapangan.