Jakarta, 19 September 2026 – Rasulullah SAW menjadi teladan bagi umat Islam tidak hanya melalui perkataan dan ajarannya, tetapi juga melalui berbagai ibadah yang dilakukan secara konsisten. Sejumlah riwayat hadis menggambarkan kebiasaan beliau menjaga amalan tertentu dalam kehidupan sehari-hari, baik berupa salat sunnah, membaca Al-Qur’an, berzikir maupun berdoa. Ketekunan tersebut menunjukkan pentingnya istiqamah dalam beribadah meskipun suatu amalan tidak selalu bersifat wajib. Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun jumlahnya sedikit. Prinsip tersebut menjadi dasar penting bagi umat Islam dalam membangun kebiasaan beribadah yang tidak hanya dilakukan sesekali. Berikut tujuh amalan yang dikenal kuat dalam sunnah dan kebiasaan Rasulullah SAW.
Amalan pertama adalah menjaga salat malam atau tahajud. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melakukan salat malam hingga kedua kakinya mengalami pembengkakan. Ketika ditanyakan mengapa beliau beribadah sedemikian rupa padahal telah mendapatkan ampunan, Rasulullah SAW menjawab dengan makna bahwa beliau ingin menjadi hamba yang bersyukur. Riwayat tersebut tercantum dalam hadis sahih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Salat malam juga mendapatkan kedudukan khusus dalam Al-Qur’an, termasuk melalui Surah Al-Isra ayat 79 yang memerintahkan pelaksanaan tahajud sebagai ibadah tambahan. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa rasa syukur dapat diwujudkan melalui kesungguhan mendekatkan diri kepada Allah.
Amalan kedua adalah menjaga salat sunnah rawatib yang mengiringi salat wajib. Abdullah bin Umar RA meriwayatkan bahwa dirinya mengingat sepuluh rakaat salat sunnah dari Rasulullah SAW, yakni dua rakaat sebelum Zuhur, dua setelahnya, dua setelah Magrib, dua setelah Isya dan dua sebelum Subuh. Riwayat lain dari Ummu Habibah RA menjelaskan keutamaan menjaga dua belas rakaat salat sunnah dalam sehari semalam. Orang yang mengerjakannya dijanjikan sebuah rumah di surga sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Muslim. Di antara salat rawatib tersebut, dua rakaat sebelum Subuh mempunyai keutamaan yang sangat besar. Rasulullah SAW menyebut dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.
Amalan ketiga adalah melaksanakan salat witir. Abu Hurairah RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW mewasiatkan kepadanya tiga perkara, salah satunya mengerjakan witir sebelum tidur. Dalam riwayat yang sama, dua amalan lainnya adalah berpuasa tiga hari setiap bulan dan melaksanakan dua rakaat salat Duha. Wasiat tersebut diriwayatkan dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim. Waktu pelaksanaan witir dapat disesuaikan dengan kemampuan seseorang, termasuk setelah salat Isya hingga sebelum terbit fajar. Bagi orang yang khawatir tidak dapat bangun pada akhir malam, witir dapat dikerjakan sebelum tidur, sedangkan orang yang yakin mampu bangun dapat mengerjakannya pada penghujung malam.
Amalan keempat adalah membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an secara rutin. Al-Qur’an merupakan pedoman utama umat Islam dan Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk membaca, mempelajari serta mengamalkan kandungannya. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa membaca satu huruf Al-Qur’an memiliki nilai kebaikan yang dilipatgandakan. Rasulullah SAW juga dikenal membaca ayat-ayat tertentu pada berbagai kesempatan, termasuk ketika menjalankan salat dan sebelum beristirahat. Aisyah RA meriwayatkan bahwa ketika hendak tidur, beliau membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas kemudian meniupkannya pada kedua telapak tangan dan mengusapkannya ke tubuh. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an tidak terbatas pada waktu salat, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Amalan kelima adalah memperbanyak zikir dan istigfar. Rasulullah SAW mengajarkan berbagai bentuk zikir yang dapat dibaca sejak pagi hingga malam, termasuk tasbih, tahmid, takbir dan tahlil. Meskipun beliau merupakan manusia yang mendapatkan kedudukan istimewa, Rasulullah SAW tetap banyak memohon ampun kepada Allah. Dalam hadis sahih riwayat Muslim, beliau menyatakan beristigfar dan bertobat kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari. Riwayat lain menggambarkan para sahabat menghitung permohonan ampun beliau berkali-kali dalam satu majelis. Hal tersebut menunjukkan bahwa istigfar tidak hanya berkaitan dengan kesalahan, tetapi juga menjadi bentuk kerendahan hati dan kedekatan seorang hamba kepada Allah.
Amalan keenam adalah menjaga zikir dan doa pada pagi serta petang. Berbagai riwayat mengajarkan bacaan perlindungan, syukur dan permohonan keselamatan yang dibaca pada dua waktu tersebut. Salah satu bacaan yang dikenal adalah tiga surah terakhir Al-Qur’an, yakni Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas, yang dianjurkan dibaca masing-masing tiga kali pada pagi dan petang. Rasulullah SAW juga mengajarkan doa yang berisi permohonan kesehatan, perlindungan serta keselamatan dalam agama dan kehidupan. Zikir pagi dan petang dapat menjadi sarana bagi seorang Muslim untuk memulai dan mengakhiri aktivitas hariannya dengan mengingat Allah. Pelaksanaannya juga tidak harus panjang karena terdapat banyak bacaan yang relatif singkat dan dapat diamalkan secara konsisten.
Amalan ketujuh adalah menjaga puasa sunnah. Selain puasa Ramadan yang bersifat wajib, Rasulullah SAW diketahui mengerjakan berbagai puasa sunnah dalam perjalanan kehidupannya. Aisyah RA meriwayatkan bahwa beliau sangat memperhatikan puasa pada hari Senin dan Kamis. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa amal manusia diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis sehingga Rasulullah SAW menyukai apabila amalnya diperlihatkan ketika sedang berpuasa. Beliau juga menjalankan puasa tiga hari dalam sebulan sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadis. Selain memberikan nilai ibadah, puasa melatih kemampuan mengendalikan diri dan meningkatkan kesadaran seorang Muslim terhadap hubungannya dengan Allah.
Tujuh amalan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan Rasulullah SAW dipenuhi ibadah yang dilakukan dengan kesinambungan, bukan hanya dalam jumlah yang besar. Hal penting yang dapat diteladani adalah prinsip istiqamah sesuai kemampuan masing-masing. Aisyah RA meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW melakukan suatu amalan, beliau menyukai untuk mengerjakannya secara konsisten. Dalam hadis lain disebutkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit. Karena itu, umat Islam tidak harus langsung menjalankan seluruh amalan sunnah dalam jumlah besar apabila belum mampu mempertahankannya. Memulai dari amalan sederhana kemudian menjaganya secara rutin dapat menjadi cara untuk meneladani konsistensi ibadah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.