Ponorogo, 20 September 2026 – Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menegaskan pentingnya menjaga kesederhanaan dalam kehidupan di lingkungan pesantren. Ia bahkan mempersilakan para santri memberikan kritik, protes, hingga melakukan demonstrasi apabila gaya hidupnya sebagai pimpinan dinilai lebih mewah dibandingkan kehidupan para santri. Pernyataan tersebut disampaikan Hasan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Presiden Prabowo Subianto turut hadir dalam acara peringatan satu abad tersebut.
Hasan menjelaskan bahwa prinsip kesederhanaan harus tercermin dalam berbagai aspek kehidupan seorang pimpinan pesantren. Ia menyinggung makanan, pakaian, kendaraan, hingga tempat tinggal sebagai beberapa hal yang menurutnya tidak seharusnya jauh melampaui standar kehidupan para santri. Hasan menyatakan bahwa santri diperbolehkan mempertanyakan kondisi tersebut apabila menemukan perbedaan yang dianggap berlebihan. Sikap itu disampaikan secara terbuka di hadapan Presiden dan para undangan yang mengikuti rangkaian peringatan satu abad Gontor.
Menurut Hasan, dirinya harus siap menerima kritik apabila kehidupan yang dijalani sebagai pimpinan tidak lagi mencerminkan nilai yang diterapkan kepada para santri. Ia secara eksplisit mengatakan bahwa kritik maupun demonstrasi diperbolehkan apabila makanan, pakaian, tempat tinggal, maupun aktivitasnya melebihi kehidupan santri. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan mengenai standar keteladanan yang ingin dipertahankan dalam kepemimpinan pesantren. Bagi Hasan, nilai yang diajarkan tidak cukup disampaikan melalui nasihat, tetapi juga harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari pimpinan.
Hasan kemudian mengaitkan prinsip tersebut dengan perjalanan panjang Pondok Modern Darussalam Gontor. Ia mengingatkan bahwa para pendiri telah mewakafkan pondok dengan landasan keikhlasan. Karena itu, pengelolaan dan kehidupan di lingkungan pesantren dipandang perlu mempertahankan nilai yang telah diwariskan sejak awal. Peringatan satu abad menjadi momentum untuk kembali menegaskan prinsip-prinsip tersebut kepada generasi santri saat ini. Hasan menempatkan kesederhanaan dan keikhlasan sebagai bagian dari nilai yang terus dijalankan di Gontor.
Pernyataan mengenai keterbukaan terhadap kritik juga menunjukkan hubungan yang ingin dibangun antara pimpinan dan para santri. Dalam lingkungan pendidikan pesantren, pimpinan memiliki posisi penting sebagai pengasuh sekaligus figur yang menjadi contoh bagi para peserta didik. Hasan menegaskan bahwa kedudukan tersebut tidak berarti seorang pimpinan harus menjalani kehidupan yang jauh lebih mewah. Sebaliknya, kesesuaian antara nilai yang diajarkan dan kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari keteladanan. Karena itu, santri diberikan ruang untuk menyampaikan kritik apabila menemukan hal yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip tersebut.
Peringatan 100 tahun Gontor sendiri menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan pesantren yang telah melewati berbagai periode perkembangan pendidikan di Indonesia. Kehadiran Presiden Prabowo dalam acara tersebut membuat sejumlah pesan mengenai pendidikan, kemandirian, dan nilai kehidupan mendapat perhatian luas. Dalam kesempatan yang sama, Hasan menggunakan sambutannya untuk mengingatkan kembali landasan yang diwariskan para pendiri pesantren. Ia menekankan bahwa keikhlasan dalam wakaf menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Gontor. Nilai tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai prinsip kehidupan, termasuk cara pimpinan menjalankan kesehariannya.
Penegasan Hasan Abdullah Sahal akhirnya menjadi salah satu pesan yang menonjol dalam rangkaian peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor. Kesediaannya untuk menerima protes apabila hidup lebih mewah dibandingkan santri menunjukkan standar yang ia nyatakan ingin diterapkan terhadap dirinya sebagai pimpinan. Makanan, pakaian, kendaraan, dan tempat tinggal menjadi contoh konkret yang disebutnya sebagai ukuran dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga kembali mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan yang menjadi bagian dari warisan para pendiri Gontor. Pernyataan tersebut menempatkan kesederhanaan dan keteladanan sebagai pesan utama yang disampaikan kepada para santri dalam momentum satu abad perjalanan pesantren.