Jakarta, 10 September 2026 – Kembalinya AS Roma ke Liga Champions 2026/2027 menjadi pembahasan menarik dalam Podcast Bola MNC University yang menghadirkan perspektif Romanisti mengenai peluang klub ibu kota Italia tersebut di kompetisi elite Eropa. Setelah tujuh musim absen dari Liga Champions, Giallorossi akhirnya kembali berkompetisi dengan membawa optimisme besar di bawah Gian Piero Gasperini. Meski demikian, pendukung Roma menilai ekspektasi terhadap tim perlu ditempatkan secara realistis mengingat kualitas lawan yang akan dihadapi. Target terdekat bukan langsung berbicara mengenai gelar juara, melainkan memastikan Roma mampu melewati fase liga dan melanjutkan perjalanan ke babak gugur. Kembalinya Roma sendiri dianggap sebagai pencapaian penting setelah beberapa musim harus berjuang di kompetisi Eropa level berbeda.
Roma mendapatkan tiket Liga Champions setelah menutup Serie A 2025/2026 di posisi ketiga. Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian penting bagi Gasperini yang sejak awal kedatangannya memang menjadikan kualifikasi Liga Champions sebagai salah satu sasaran utama. Roma memastikan posisi tersebut setelah mengalahkan Hellas Verona 2-0 pada pertandingan terakhir musim lalu. Hasil itu mengakhiri penantian panjang klub yang terakhir kali bermain di Liga Champions pada musim 2018/2019. Bagi Romanisti, kesempatan kembali mendengar atmosfer kompetisi tersebut mempunyai makna tersendiri setelah bertahun-tahun berada di luar panggung tertinggi Eropa.
Pembicaraan mengenai target realistis menjadi semakin relevan setelah Roma mengetahui lawan yang harus dihadapi pada fase liga. Giallorossi mendapatkan jadwal yang tidak ringan karena harus bertemu Real Madrid, Paris Saint-Germain, Manchester United, Sporting CP, Lille, Fenerbahce, Slovan Bratislava dan AEK Athens. Empat pertandingan dimainkan di kandang dan empat lainnya berlangsung di markas lawan. Real Madrid, Sporting CP, Lille dan Slovan Bratislava menjadi lawan Roma di kandang, sedangkan perjalanan tandang membawa mereka menghadapi PSG, Manchester United, Fenerbahce dan AEK Athens. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa Roma membutuhkan konsistensi sejak pertandingan pertama.
Format baru Liga Champions juga membuat setiap poin mempunyai pengaruh besar terhadap posisi akhir. Sebanyak 36 klub berada dalam satu klasemen pada fase liga dan masing-masing memainkan delapan pertandingan. Delapan tim teratas mendapatkan tiket langsung menuju babak 16 besar. Klub yang berada pada posisi kesembilan hingga ke-24 harus melewati babak play-off, sedangkan tim di posisi ke-25 sampai ke-36 langsung tersingkir. Karena itu, Roma tidak harus mengalahkan seluruh klub besar untuk menjaga peluang melanjutkan perjalanan, tetapi membutuhkan perolehan poin yang cukup dari delapan pertandingan.
Dalam konteks tersebut, target menembus fase gugur dinilai lebih masuk akal dibandingkan langsung menempatkan Roma sebagai kandidat juara. Pertandingan melawan Slovan Bratislava dan AEK Athens, misalnya, menjadi laga yang secara kualitas diharapkan dapat menghasilkan poin maksimal. Pertandingan kandang menghadapi Lille dan Sporting juga mempunyai nilai penting dalam perhitungan tersebut. Sementara ketika menghadapi Real Madrid, PSG dan Manchester United, Roma akan berhadapan dengan klub yang memiliki kedalaman skuad serta pengalaman Liga Champions sangat besar. Kemampuan mengambil poin dari pertandingan sulit dapat menjadi pembeda dalam persaingan klasemen.
Roma sebenarnya mempunyai modal cukup baik untuk menghadapi tantangan tersebut. Gasperini berhasil membangun tim yang kompetitif sejak musim pertamanya di ibu kota Italia. Roma tidak hanya kembali ke Liga Champions, tetapi juga memperlihatkan karakter permainan yang lebih agresif dan konsisten. Memasuki musim 2026/2027, Giallorossi juga memulai Serie A dengan hasil positif dan menunjukkan bahwa fondasi dari musim sebelumnya masih terjaga. Stabilitas tersebut menjadi penting karena Liga Champions akan menambah beban pertandingan dan menuntut rotasi skuad secara lebih intensif.
Paulo Dybala tetap menjadi salah satu pemain yang paling diharapkan memberikan perbedaan. Penyerang Argentina tersebut mempunyai pengalaman panjang di Liga Champions dan terbiasa menghadapi pertandingan dengan tekanan tinggi. Musim ini juga menjadi momen spesial karena Dybala kembali tampil di Liga Champions setelah sekitar lima tahun tidak merasakan kompetisi tersebut. Selain kemampuan mencetak gol, kreativitasnya dalam membangun serangan dapat membantu Roma ketika menghadapi lawan yang memiliki organisasi pertahanan kuat. Tantangan utama adalah menjaga kondisi fisiknya agar tersedia pada pertandingan-pertandingan penting.
Gasperini juga mempunyai sejumlah pemain lain yang dapat menjadi sumber kreativitas dan gol. Matias Soule terus berkembang sebagai salah satu pemain menyerang penting, sementara Donyell Malen memberikan kecepatan dan ketajaman pada lini depan. Rodrigo Mora menjadi pilihan muda yang menambah variasi permainan Roma. Manu Kone memberikan energi pada lini tengah, sedangkan struktur pertahanan mempunyai sejumlah pemain berpengalaman yang dapat membantu menjaga keseimbangan. Kedalaman tersebut akan diuji ketika jadwal Serie A dan Liga Champions mulai berjalan berdekatan.
Pengalaman Eropa Roma dalam beberapa musim terakhir juga tidak dapat diabaikan meskipun klub tidak tampil di Liga Champions. Giallorossi menjuarai UEFA Conference League pada 2022 dan kemudian mencapai final Liga Europa pada 2023. Roma juga beberapa kali menjalani pertandingan fase gugur kompetisi Eropa sehingga sebagian pemain sudah terbiasa menghadapi atmosfer pertandingan dua leg dan tekanan tinggi. Pengalaman itu menjadi modal mental yang berguna ketika kembali ke Liga Champions. Namun, level kesalahan yang dapat ditoleransi di kompetisi tertinggi Eropa jauh lebih kecil sehingga konsentrasi menjadi faktor penting.
Sejarah Roma di Liga Champions juga memberikan kenangan kuat bagi pendukungnya. Salah satu perjalanan paling dikenang terjadi pada musim 2017/2018 ketika Giallorossi mampu mencapai semifinal. Roma ketika itu menghasilkan salah satu comeback paling terkenal dengan menyingkirkan Barcelona setelah kalah 1-4 pada leg pertama perempat final. Kemenangan 3-0 di Stadion Olimpico membuat Roma lolos berkat aturan gol tandang yang masih berlaku saat itu. Perjalanan akhirnya dihentikan Liverpool di semifinal, tetapi pencapaian tersebut tetap menjadi referensi mengenai kemampuan Roma menciptakan kejutan di Eropa.
Meski sejarah tersebut membangun optimisme, kondisi sepak bola Eropa sekarang telah berubah. Klub-klub papan atas memiliki investasi dan kedalaman skuad yang semakin besar sehingga Roma harus membangun kekuatan secara bertahap. Kembali secara konsisten ke Liga Champions menjadi bagian penting dari proses tersebut karena kompetisi ini memberikan keuntungan dari sisi prestasi, pengalaman pemain maupun finansial. Pendapatan kompetisi dapat membantu klub memperkuat skuad dan menjaga pemain penting. Karena itu, keberhasilan musim ini tidak semata-mata diukur dari seberapa jauh Roma melangkah, tetapi juga bagaimana klub membangun fondasi untuk tetap berada di level Liga Champions.
Gasperini sendiri menunjukkan keyakinan bahwa Roma tidak perlu merasa inferior ketika berhadapan dengan tim-tim besar. Pelatih berpengalaman tersebut menilai timnya mempunyai kualitas untuk bersaing apabila mampu bermain pada level terbaik. Namun, ia juga memahami Liga Champions menuntut standar yang lebih tinggi dibandingkan kompetisi domestik. Kesalahan kecil dapat langsung dihukum, terutama ketika menghadapi pemain dengan kualitas individu tinggi. Roma karena itu membutuhkan kombinasi antara keberanian menyerang, organisasi pertahanan dan kemampuan mengelola tempo pertandingan.
Pembahasan dalam Podcast Bola MNC University pada akhirnya menggambarkan optimisme yang tetap disertai ekspektasi terukur dari kalangan Romanisti. Setelah tujuh musim menunggu, kembali berada di Liga Champions sudah menjadi langkah besar bagi AS Roma. Target melewati fase liga dan mendapatkan tempat di babak gugur dapat menjadi sasaran awal yang realistis sebelum berbicara mengenai kemungkinan melangkah lebih jauh. Jika mampu menjaga konsistensi, memaksimalkan pertandingan yang secara kualitas dapat dimenangkan dan mencuri poin dari klub-klub unggulan, peluang Giallorossi tetap terbuka. Bagi Romanisti, musim ini menjadi kesempatan untuk kembali menikmati Roma bersaing di panggung tertinggi Eropa sekaligus melihat seberapa jauh proyek Gasperini mampu membawa klub ibu kota Italia tersebut.